let's talk about friendship, love & marriage, ordinary miracles
Publisher : halaman moeka publishing


The Story Behind This Book
Proyek Persahabatan itu Bernama “Let’s Talk About: Friendship, Love&Marriage, Ordinary Miracles” Oleh Retnadi Nur’aini Judul : “Let’s Talk About: Friendship, Love&Marriage, Ordinary Miracles” Penulis : Airin Nisa, Shinta Anita, Retnadi Nur’aini Penerbit : Halaman Moeka Publishing Jml hal : 194 hal Editor : Catur S Tata letak : Anang S Desain sampul : Yena Badruddin Kalau salah satu endorser buku kami, Jenny Jusuf, menulis bahwa buku ini adalah ‘Proyek Hati’, maka saya sebagai salah satu tim penulis berpendapat bahwa buku “Let’s Talk About: Friendship, Love&Marriage, Ordinary Miracles” adalah ‘Proyek Persahabatan’. Bukan hanya karena saya, Airin Nisa, Shinta Anita dan Yena Badruddin kebetulan mengambil jurusan Komunikasi Massa yang sama di FISIP UI pada tahun 2002. Bukan hanya karena kesamaan itu, beserta keterlibatan kami dalam banyak kegiatan seperti: mengerjakan majalah jurusan, aktivitas kerohanian, diskusi, dan tugas kelompok, kemudian membuat kami mulai membuka diri satu sama lain. Di mana, diam-diam kami mulai saling membaca blog masing-masing. Meresapi setiap tulisan dan buah pikiran, memberikan komentar dan masukan, sembari mempersilakan diri satu sama lain untuk saling berkunjung ke dalam ruang hati paling pribadi. Segalanya berlangsung dengan alami dan sangat halus. Demikian halusnya, sampai-sampai tanpa kami sadari, 7 tahun kemudian, kami semua berada di sini. Sebuah semesta kecil sederhana, yang diudarai oleh cinta. *** Ada banyak hal yang bisa saya tulis tentang seorang Airin Nisa. Bahwa Ain suka komik Peppermint Age, Garfield, aroma kopi, dan langit berbintang. Bahwa Ain selalu tampak sangat cantik dalam warna peach dan pink. Bahwa Ain tidak bisa makan masakan pedas, sering lupa makan yang membuat maagnya kambuh, dan punya mata yang berkantung saat ia kurang tidur. Bahwa Ain sangat senang menulis. Bahwa kesenangan itu, membuat Ain selalu menulis dengan hati. Bahwa ia berusaha menguraikan pikirannya dengan runut, sederhana, dan tanpa menggurui. Bahwa Ain juga selalu berusaha berpikiran positif`dalam banyak hal, dan selalu berusaha untuk mengambil hikmah dari segala peristiwa—satu hal yang masih dengan susah payah saya pelajari. Dalam “Pikiran itu Suatu Pilihan” di halaman 182 misalnya. Betapa dalam tulisan yang tergabung dalam bab “What I Know for Sure” ini Ain menuliskan daftar pikiran negatif yang berasal dari dirinya sendiri. Beberapa di antaranya adalah: “Karena hanya diri saya sendiri yang menghujat terus kegagalan saya mencapai target hari ini. Karena hanya diri saya sendiri yang berteriak kencang bahwa saya tidak akan menjadi istri yang baik. Karena hanya diri saya sendiri yang memaki-maki bahwa seumur hidup, saya tidak akan menjadi ibu yang penyayang, dan selamanya tidak akan ada keluarga yang hangat untuk saya,” (hal 182-183) . Kali pertama membaca tulisan ini, saya langsung terkagum-kagum seketika. Bukan hanya karena saya merasa seketika berkaca di dalamnya, namun juga karena Ain, dengan beraninya menegakkan kepala dan berkata, “…di satu titik ada rasa marah dan muak yang luar biasa terhadap setan di kepala, dan saya sadar semuanya hanya masalah frekuensi” (hal 183). Dengan beraninya, Ain juga berusaha mendebat serangan kepalanya tentang menjadi istri dan ibu, dengan berkata: “Mengapa tidak bisa? Saya bisa belajar bersikap hangat; belajar memasak; belajar mengurus anak; belajar caranya belanja; bukankah yang terpenting adalah memandang masa depan sebagai solusi, bukannya meratapi masa lalu?” (hal 184). Dengan lantangnya, Ain juga menyergah serangan kepalanya tentang perlakuan pantas dari kekasih dengan kalimat: “Salah besar. Saya pantas. Karena saya memang berharga.” (hal 184). Secara sepintas, kalimat-kalimat yang digunakan Ain untuk mendebat kepalanya memang kalimat-kalimat sederhana. Kita semua bisa meneriakkannya dengan lantang, saat sedang gembira, bersemangat—atau setidaknya punya emosi yang relatif stabil. Namun lain halnya, saat jiwa yang rapuh sedang terjatuh dalam jurang depresi tanpa dasar. Di mana kepercayaan diri jatuh bebas di titik nol, dan akal sehat yang biasanya dapat diandalkan untuk mengambil keputusan mulai menguap. Saat itu, betapa kalimat-kalimat sederhana Ain untuk mendebat kepalanya adalah salah satu peperangan terberat dan tersulit yang pernah dilewati seorang manusia. Mengutip kalimat Ain di bagian opening: “Jika ada satu teori yang sangat saya mutlakkan kebenarannya, itu adalah premis dari Rasulullah SAW, bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri,” (hal 182). Karena hanya diri sendirilah yang paling tahu, semua kebusukan dan kekotoran pikiran kita—hal yang membuat diri sendirilah yang paling paham titik kelemahan kita untuk kemudian menyerangnya secara tepat sasaran. Karena hanya diri sendirilah yang—meski kerap enggan mengakui—menikmati rasanya berputar-putar dalam masokisme penderitaan, menjadi pecandu drama dan tragedi. Hal yang mungkin membuat kita bisa punya imej tertentu yang kita harapkan untuk kita labelkan: sebagai orang yang tak putus dirundung malang, atau sebagai survivor yang bisa menepuk dada dengan bangga karena merasa telah melewati banyak rintangan. Namun mengutip kata Ain: “It’s a matter of habit” (hal 186). Dan pilihannya ada pada kita, “untuk mengelap, dan membersihkannya sekarang juga, atau terus menunda dan menikmati masokisme, lalu hidup menderita. Be brave to fight. Open your mind.” (hal 186). Bravo, Ain. *** Kata “bravo” ke dua, saya ucapkan pada seorang Airin Nisa dalam artikelnya yang berjudul “Betrayal” (hal 66). Dalam artikel yang termuat dalam bab “Love&Marriage” ini, Ain menuliskan pengalaman pribadinya dikhianati oleh calon suami. Betapa dengan jujur, Ain membagi perasaan sedih dan sakit hatinya. Namun betapa dengan hati-hati, Ain juga membatasi dirinya untuk tidak bercerita terlalu banyak, untuk tidak menguar aib orang lain, untuk tidak melibatkan pembaca terlalu jauh dalam pengalaman personalnya—suatu hal yang tak mudah, karena kita kerap kali kelepasan curhat panjang lebar dan menonjolkan ‘keakuan’ saat menulis tentang sesuatu yang bersifat emosional. Di lain sisi, sebagai sahabat, sedikit banyak saya juga tahu mengenai kejadian itu. Sedikit banyak saya juga melihat, mendengar, dan mengamati banyak detil yang kelewat pribadi untuk dituliskan di sini. Dan sebagai sahabat, sungguh saya salut akan kedewasaan Ain untuk membuka pikiran dengan menulis “Kehancuran suatu hubungan, bukanlah kesalahan satu pihak. Ada dua orang yang memberi dan menerima. Maka jika satu orang memberikan feedback yang buruk, pasti ada yang salah dengan umpannya,” (hal 68). Sama salutnya, saat berbulan-bulan telah lewat dan Ain membuat tulisan ini. Dimana ia kemudian menuliskan dengan lapang dada “Lalu, tanpa saya sadari, meski tidak akan melupakan kejadian ini, saya sudah memaafkan pria itu. Bagi hidup versi saya, ia hanyalah satu fase yang harus dilalui untuk mendewasakan diri,” (hal 71). Dengan sangat manusiawi, Ain juga menuliskan “Mungkin saya tak akan pernah menghormati dirinya, tapi paling tidak saya tetap bisa menjalin silaturahmi. Mungkin saya tak akan menerima keputusannya secara logika, tapi paling tidak saya bisa menghormati keputusan itu sebagai pilihannya,” (hal 73). Sebagai seorang sahabat, sungguh saya bangga luar biasa akan kebesaran hati Ain yang menuliskan ending: “Pengkhianatan tetaplah tidak akan pernah menjadi kondisi yang positif, karena niatnya saja sudah buruk. Namun paling tidak kini saya tahu, ada cara untuk menghadapinya, dan ada cara untuk keluar hidup-hidup dari jeratan traumanya. Itu yang paling penting, ilmu yang paling berharga,” (hal 73). *** Bicara tentang seorang Shinta Anita, saya akan menggambarkan sosok Shinta sebagai seorang yang berkarakter, tertarik pada isu feminisme muslim, dan punya prinsip. Saat kami kuliah dulu, Shintalah yang punya ide pertama kali untuk mendirikan [icon!]—Islamic Communication: sebuah wadah aktivitas rohani untuk mahasiswa Komunikasi. Karena saat itu stereotipe umum untuk mahasiswa Komunikasi adalah ‘hedonis dan anak dugem yang hobi clubbing’, ide Shinta bak oase yang menyejukkan bagi para mahasiswa lain—seperti saya dan Ain misalnya—yang merasa tidak termasuk dalam generalisasi stereotipe tersebut. Semangat dakwah Shinta ini pertama kalinya terwujud dalam sebuah buletin Jumat [icon!] yang dibagikan secara gratis. Saya ingat, buletin [icon!] pertama kami ini hanya berupa fotokopian hitam putih yang dibuat Shinta secara sederhana dari guntingan-guntingan artikel yang ditempelkannya pada satu kertas. Alhamdulillah, Allah menunjukkan jalanNya, dengan mengirimkan Yena untuk bergabung dan me-lay out buletin kami. Dengan tim kecil yang terdiri atas Ain, Shinta, saya, Yena, dan Dhanny, mulailah kami menjalankan buletin tersebut secara rutin. Lagi-lagi alhamdulillah, Bang Ade Armando kemudian bersedia menjadi donatur tetap untuk membiayai ongkos cetak sederhana buletin di atas kertas samson warna coklat ini. Dari sana, [icon!] pun mulai merambah banyak kegiatan. Mulai dari buka puasa bersama, kajian, sampai mabit di Puncak. Sungguh saya bangga pada seorang Shinta Anita untuk ide dan semangatnya yang tak putus untuk berdakwah di lingkungan manapun ia berada. Sekalipun saya sangat bangga pada Shinta, namun dulu bagi saya, Shinta terasa tak terjangkau sebagai sosok seorang sahabat. Di mata saya, Shinta tampak terlalu pintar dan terlalu dewasa untuk menanggapi segala kekonyolan dan pertanyaan bodoh saya. Namun dengan berjalannya waktu, seperti saya yang mulai menyilakan masuk ruang pribadi hati saya, Shinta juga memberikan undangan balasan bagi saya untuk bertamu ke rumah hatinya—suatu tempat yang ternyata interiornya tak jauh beda dengan ruang hati saya. Dimana ruangan-ruangan itu juga bisa berantakan, sedikit berdebu dan kusam, atau malah gelap senyap karena sempat kehilangan cahaya. Dalam buku “Let’s Talk About: Friendship, Love&Marriage, Ordinary Miracles” ini sendiri, tak banyak memang tulisan Shinta Anita yang bisa dinikmati. Bukan karena Shinta tak pandai menulis ataupun tidak produktif. Namun karena, banyak tulisan Shinta yang kelewat personal untuk dibagikan. Ini karena, Shinta menikah di usia yang cukup muda—22 tahun. Hanya dalam waktu sekitar 2 minggu setelah pernikahan, suami Shinta, Nandha Handharu, meninggalkan Shinta demi melanjutkan studi S2-nya di Korea. Sebagai newlywed yang terpaksa menjalani hubungan jarak jauh, Shinta pun sering menuangkan perasaannya pada sang suami lewat blognya. Salah satunya, adalah puisi “Tentang Mencintai” nya yang merupakan pernyataan cinta pertama Shinta pada Nandha, yang ditulis dengan demikian indahnya. Beberapa kalimat indah itu adalah “Kalau mencintai adalah mengenai wajah bersemu merah dan senyum merekah; Kalau mencintai adalah mengenai degup jantung yang jungkir balik; Kalau mencintai adalah ketakutan atas keasingannya sendiri; Kalau mencintai adalah tentang mencoba memahami, mengerti, mendalami arti, alasan dan tujuan hidup, berkontemplasi dalam merenungi segala makna, berkutat dalam jagad pemikiran,” (hal 58-59). Sebagai sahabat, sungguh saya terharu akan mimpi sederhana Shinta untuk merayakan Ramadhan bersama suaminya, yang tertuang dalam “Hari-hari Ramadhan Kami”. Betapa dalam tulisan yang termuat dalam bab “Love&Marriage” ini, Shinta menuliskan keinginan-keinginan sederhananya untuk sahur bersama, buka puasa bersama, mencuci piring bersama, berangkat bersama ke masjid untuk menunaikan shalat tarawih, shalat maghrib berjamaah, dan bercengkerama bersama suami sepulang tarawih. Hal-hal sederhana yang terasa mewah saat sang suami terpisahkan jarak sekian ribu mil dan beberapa jam waktu. Sebuah keinginan yang sungguh-sungguh sederhana. Dan indah. *** Proyek persahabatan “Let’s Talk About: Friendship, Love&Marriage, Ordinary Miracles” ini juga tak bisa dilepaskan dari seorang Yena Badruddin. Berawal dari hobinya menggambar, gambar Yena saat masih kanak-kanak kerap dimuat di majalah Bobo. Hobi yang diteruskannya dengan menggambar aneka komik saat masih remaja. Kegemaran ini membuatnya tergabung dalam tim Buku Tahunan Sekolah SMUN 8, saat Yena masih duduk di kelas 2 SMU. Dimana saya selalu terkagum-kagum melihat totalitas detil ilustrasi dan gambar secara manual yang menghiasi buku tahunan itu. Karena hobinya untuk pada desain inilah, Yena kerap didaulat oleh teman-teman di jurusan Komunikasi untuk mendesain banyak hal. Mulai dari majalah jurusan On! Communication, buletin [icon!], desain poster dan flyers untuk KomNite, atau apapun. Dengan setumpuk permintaan tolong yang dilakukannya secara cuma-cuma ini, saya tak pernah habis pikir bagaimana caranya Yena membagi waktu dan meraih nilai A dan B di hampir seluruh mata kuliah. Padahal stereotipe yang lebih spesifik saat itu di jurusan Komunikasi adalah: anak Komunikasi Massa adalah anak yang senang berdiskusi, mata kuliahnya susah-susah, dosennya pelit nilai, dll—tidak seperti stereotipe anak Humas dan Iklan yang konon lebih mudah untuk mendapat nilai A. Namun Yena, dengan mengambil jurusan Komunikasi Massa dengan fokus Kajian Media, adalah satu-satunya mahasiswa angkatan kami dari jurusan KoMas yang berhasil meraih predikat cum laude. Salut. Di sisi lain, hobinya akan desain juga selalu membuat saya terkagum-kagum. Bukan hanya hasilnya yang—mengutip komentar Ain akan desain Yena: “outstanding”—namun juga karena Yena hampir selalu memuaskan keinginan kami. Padahal kala itu, kami yang masih baru belajar caranya menulis dan manajemen majalah, masih hijau sekali soal desain. Kerap kali Yena turun tangan, karena kami tak punya ide sama sekali untuk cover dan foto ilustrasi artikel. Dan Yena, dengan rajinnya, akan membacai seluruh artikel yang di-layoutnya. Menambahkan foto-foto dari web gratis. Untuk kemudian mendesain cover depan dan belakang yang pas. Mungkin karena itu pula, saya merasa aman-aman saja, saat hanya mengirim satu imel sederhana tentang ide cover buku “Let’s Talk About: Friendship, Love&Marriage, Ordinary Miracles”. Saya percaya, Yena bisa menangkap ‘feel’ buku ini (karena dia juga kerap membacai blog kami). Dan seperti yang selalu dikatakan Yena pada setiap kliennya: ‘Kalopun nggak persis kaya gini, konsepnya geser-geser dikit ya’, saya juga percaya, bahwa pergeseran konsep itu akan selalu menghasilkan yang terbaik. Karena saya selalu percaya, kami bicara dengan ‘bahasa’ yang sama. *** Ain, Shinta, dan Yena adalah tiga nama yang bergabung secara langsung dalam proyek persahabatan ini. Dalam prakteknya, ada nama-nama sahabat lain yang tanpa henti menyemangati proyek ini. Mereka adalah Diani Citra, Diah Tantri Dwiandani, dan Niken Suryandari. Nama-nama inilah yang mewarnai 4 tahun masa kuliah saya, sekaligus juga nama-nama yang membuat saya belajar banyak hal. Tentang hidup. Tentang diri. Tentang Tuhan. Tentang buku bagus dan film lucu. Dan juga, tentang cinta. Dalam buku ‘Tuesdays with Morrie’ karya Mitch Albom, ada salah satu kutipan favorit saya tentang persahabatan. Dalam salah satu bab, Morrie Schwartz sang profesor yang terserang ALS mendapat pertanyaan: “Bagaimana jika di kemudian hari Anda tak lagi bisa bicara, sementara sahabat Anda juga sudah tak lagi bisa mendengar?” Dengan sederhana, Morrie menjawab “Maka kami akan berpegangan tangan. Karena kami sudah bersahabat selama lebih dari lima belas tahun, maka tak ada lagi yang perlu dikatakan. Kami cukup berpegangan tangan, dan cinta pun akan mengalir diantara kami.” Ah, dan saya pun berdoa pada Tuhan, semoga persahabatan saya dengan para sahabat saya di kemudian hari akan tetap seperti ini. Pun kami dibatasi jarak, ruang, waktu, bahkan mungkin juga keterbatasan fisik seperti Morrie. Semoga selamanya kami akan berada di sini. Sebuah semesta kecil sederhana, yang diudarai oleh cinta. Amin. ***